Breaking News

Khutbah Jumat: Kekuatan Wisdom & Hikmah Kehidupan

Loading

KHUTBAH PERTAMA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْـحَمْدُ لِلَّهِ، الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، رَبُّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ بِالْكِتَابِ الْمُبِيْنِ، الْفَارِقِ بَيْنَ الْهُدٰى وَالضَّلَالِ، وَالْغِيِّ وَالرَّشَادِ، وَالشَّكِّ وَالْيَقِيْنِ.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita awali khutbah ini dengan memperbaharui niat dalam hati: untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, ketakwaanlah yang menjadi ukuran paling mulia di sisi Allah, bukan harta, jabatan, atau status sosial. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di zaman yang serba cepat dan penuh tekanan seperti sekarang ini, banyak orang mengira bahwa kekuatan itu hanya sebatas pada kekuatan fisik, kecerdasan otak, atau jabatan. Namun, sesungguhnya ada satu kekuatan yang lebih tinggi dan lebih bertahan lama, yaitu wisdom – kebijaksanaan.

Kekuatan kebijaksanaan tidak bisa dibentuk dalam semalam. Ia adalah buah dari pengalaman, latihan jiwa, dan ketundukan kepada Allah. Sebagaimana para ulama sufi mengajarkan, kebijaksanaan adalah pancaran dari hati yang bersih dan akal yang jernih.

Para hadirin rahimakumullah,

Mari kita merenungi sebuah kisah sederhana namun penuh makna. Dikisahkan, ada seorang pemuda yang sangat sombong. Ia merasa kuat, sakti, dan tidak terkalahkan. Suatu hari, ia melihat sebongkah batu besar. Karena kesombongannya, ia berkata bahwa ia bisa memecahkan batu itu hanya dengan kekuatan tangannya.

Pemuda itu pun mengambil kuda-kuda dan mulai memukul batu itu. Sepuluh kali, dua puluh kali, tiga puluh kali, hingga seratus pukulan. Tapi batu itu tak jua pecah. Ia pun putus asa dan menyerah.

Tiba-tiba, datanglah seorang lelaki tua. Badannya kurus, tampak renta. Pemuda itu meremehkannya. “Apa yang bisa dilakukan orang setua ini terhadap batu besar?” pikirnya.

Namun, orang tua itu hanya tersenyum. Ia memukul batu itu lima kali dan batu itu pun pecah.

Terkejut, pemuda itu bertanya, “Wahai guru, ilmu apakah yang Anda gunakan?”

Sang guru menjawab: “Tidak ada ilmu khusus. Aku hanya tahu bahwa batu itu akan pecah setelah 105 pukulan. Kamu berhenti di pukulan ke-100 karena kamu sombong. Aku melanjutkan hingga ke-105.”

Jamaah yang berbahagia,

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak dari luar. Ilmu kebijaksanaan tidak diajarkan di bangku sekolah, melainkan dari tajribatul hayat – pengalaman hidup yang mendalam. Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menyebutkan bahwa “Ilmu itu bukan sekadar hafalan, melainkan cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati.”

Sementara Syeikh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam menegaskan:

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلَ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

 “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada menyendiri sejenak untuk memasuki medan perenungan.”

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Manusia sering terjebak dalam penilaian lahir. Mengira bahwa yang kuat adalah yang berbadan besar, yang keras suara, yang hebat jabatan. Padahal dalam Islam, kekuatan sejati ada pada kelembutan hati dan keluasan akal. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِندَ الْغَضَبِ

 “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wisdom (al-hikmah) tidak dimiliki semua orang. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa hikmah adalah karunia-Nya yang khusus:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ

 “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Hadirin sekalian,

Kebijaksanaan itu lahir dari hati yang tunduk dan telinga yang mau mendengar. Dalam Nashaihul Ibad, Imam Nawawi al-Bantani menyebutkan bahwa salah satu ciri orang arif adalah: qalla kalâmuhu wa kathura istighfâruhu – sedikit bicaranya, banyak istighfarnya.

Dalam dunia pesantren, para santri dilatih untuk mengenali batas, bersabar dalam proses, dan tidak mudah menyimpulkan. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Syaikh Nawawi menyebut bahwa salah satu adab penting dalam mencari ilmu adalah: at-tawadhu’ ma’al-‘ilm, rendah hati dalam ilmu. Karena ilmu tanpa kerendahan hati akan berubah menjadi kesombongan, bukan hikmah.

Kembali pada kisah pemuda dan guru tadi apa yang sebenarnya dikalahkan oleh si guru tua? Bukan hanya batu, tapi ego, kesombongan, dan tergesa-gesa. Ia mengalahkan nafsu diri sendiri. Dan itu jauh lebih berat daripada menghancurkan batu.

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Kebijaksanaan juga lahir dari keteguhan untuk istiqamah. Memukul batu 100 kali itu butuh tenaga. Tapi melanjutkan 5 pukulan terakhir saat orang lain sudah menyerah—itulah wisdom. Nabi SAW juga mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa. Dalam hadis disebutkan:

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

 “Ketelitian dan kehati-hatian itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Tirmidzi)

Kebijaksanaan menuntut kita untuk sabar, tenang, berpikir panjang. Itulah mengapa para ulama terdahulu tampak tenang, meski dunia di sekitar mereka kacau. Karena hati mereka bersandar pada Allah, bukan pada dunia.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita tanamkan dalam diri kita dan keluarga kita semangat untuk mengejar hikmah. Bukan sekadar ilmu, tapi ilmu yang menumbuhkan kerendahan hati. Bukan sekadar ibadah, tapi ibadah yang membentuk akhlak.

Karena hikmah adalah jalan menuju makrifat. Dan makrifat adalah jalan menuju ridha Allah. Allah berfirman:

وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ

 “Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

 “Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman. Di manapun ia menemukannya, dialah yang paling berhak atasnya.” (HR. Tirmidzi)

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memukul batu-batu ujian hidup hingga tuntas dengan sabar, rendah hati, dan penuh kebijaksanaan.

 بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ، وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ.

Khutbah 2

الْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْإِتِّحَادِ، وَالِاعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَشُكْرِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ أَمْرًا عَظِيْمًا، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ، وَالْغَلَاءَ، وَالْفَحْشَاءَ، وَالْمُنْكَرَ، وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً، وَمِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِوَالِدِيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِيْنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ، وَالْمُنْكَرِ، وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading