Breaking News
Muskerwil PWNU Kaltim

Belajar dari Inna: Menanggalkan Aku, Menguatkan Kita

Loading

Oleh: Sismanto HS – Ketua PCNU Kutai Timur

Catatan Muskerwil I PWNU Kalimantan Timur | Ponpes Syi’chona Cholil Samarinda, 22–23 Agustus 2025

Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) pertama PWNU Kalimantan Timur yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Syi’chona Cholil Samarinda pada 22–23 Agustus 2025 bukanlah pertemuan biasa. Bagi saya, sebagai Ketua PCNU Kutai Timur, kehadiran dalam forum ini adalah momen penyadaran. Di balik format rapat, laporan kinerja, dan pembahasan program, ada sesuatu yang jauh lebih dalam—yakni pertarungan batin kita sebagai pegiat jam’iyyah: apakah kita masih menggerakkan NU dengan ruh pengabdian atau hanya sekadar menjalankan roda organisasi agar tetap berputar? Dari sekian banyak sesi, salah satu yang paling membekas adalah ketika Ketua PBNU, KH. Dr. Miftah Faqih, MA, dalam forum upgrading, menyampaikan satu kaidah gramatika Arab klasik yang tampaknya sederhana, namun justru menyentuh inti persoalan gerakan NU dewasa ini:

إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا تَنْصِبُ الاِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ

(inna wa akhawātuhā, amalnya adalah tanshibul isma wa tarfa‘ul khabar).

Bahwa partikel “inna dan saudara-saudaranya” dalam ilmu shorof itu berfungsi menashab (merendahkan) isim atau subjek, serta merafa’ (meninggikan) khabar atau informasi. Kalimat itu tak lagi saya maknai sebagai pelajaran tata bahasa Arab semata, tetapi sebagai cermin ruhaniyah. Dalam berjam’iyyah, kita bukan sedang menegakkan “ana” (aku) atau mempertentangkan “anta” (kamu), melainkan sedang meneguhkan “nahnu” (kita). Maka, kalau kita adalah ismun manshub, kita harus siap ditundukkan, direndahkan egonya, agar al-khabar yakni nilai, khidmah, dan manfaat dari NU dapat ditinggikan. Bukan jabatan kita yang harus diangkat-angkat, melainkan ruh kolektif gerakan yang harus diperkuat. Dan bukan posisi kita yang harus dipertahankan, melainkan keberlangsungan khidmah yang harus dijaga bersama. Maka yang penting bukan siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kita bersama-sama membawa NU tetap hidup dan menyala, dari pusat hingga ke ranting.

Pemahaman itu terasa sangat kontekstual bila saya hubungkan dengan beberapa pengalaman di lapangan. Dalam Konferensi MWCNU Bengalon, saya menyaksikan langsung bagaimana kepemimpinan lahir dari musyawarah, bukan dari perebutan posisi. Tidak ada suara yang ingin tampil paling depan. Yang ada hanyalah keikhlasan dan penerimaan, bahwa siapa pun yang diberi amanah, ia hanya menjadi ism dalam kalimat yang lebih besar. NU adalah kalimat itu. Dalam pelantikan PC Fatayat NU Kutim, saya juga melihat semangat muda yang tidak sekadar ingin tampil, tetapi sungguh-sungguh ingin hadir dan mengabdi. Mereka datang bukan dengan semangat untuk dikenal, tetapi dengan tekad untuk menyala dan menyalakan.

Ketika saya mengikuti PMKNU Angkatan I, saya makin yakin bahwa khidmah dalam NU bukanlah kerja untuk struktur, melainkan untuk menyambung rantai nilai dari para muassis. Kita ini hanyalah isim kecil dalam rangkaian kalimat agung yang disusun para kiai. Kita ini hanyalah wasilah agar al-khabar NU tetap bisa sampai ke umat. Jika masih ada yang berlomba menyebut diri dalam setiap berita, mendahului keputusan kolektif, atau membawa nama NU ke arah personalisme, barangkali kita memang belum selesai belajar dari “inna”. Kita masih terlalu suka berdiri di depan, bukan di bawah kalimat. Padahal, keindahan NU adalah ketika semua ism rela menunduk agar satu khabar besar—Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah dapat terangkat.

Seperti dalam tradisi kita membaca maulid. Barzanji bukan tentang siapa yang membacakannya, tetapi tentang siapa yang hadir dan menunduk dalam cinta kepada Nabi. Dalam refleksi saya tentang tradisi Grebeg Maulud, saya tulis bahwa yang membuat tradisi itu menyatu dengan NU adalah karena ia mengajarkan kebersamaan. Tak penting siapa yang memimpin pembacaan. Yang penting semua mengaminkan. Semua menyambung ruh Nabi dalam satu suara. Itulah “inna” yang hidup. “Inna” yang tidak hanya menjadi partikel bahasa, tapi menjadi partikel ruhani yang menyatukan hati-hati kita. Sebab itu, setelah Muskerwil ini, saya tidak membawa pulang banyak proposal atau catatan kerja. Saya hanya membawa satu pelajaran penting: bahwa dalam NU, kita harus rela menjadi ismun manshub, agar jam’iyyah kita bisa menyampaikan khabar kepada umat. Bahwa kita harus menanggalkan “aku” agar “kita” dapat tumbuh. Bahwa kita harus menundukkan kehendak pribadi agar bisa mengangkat pesan yang lebih besar. Sebab itu, mari belajar dari inna dan jangan sekadar menghafalnya. Mari hidup dalam nahnu, agar NU tetap menjadi rumah tempat semua pulang dan semua tumbuh.

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading