Loading

"Learn by doing" adalah kalimat yang tepat untuk mengajarkan anak bagaimana membiasakan karakternya. Guru yang baik adalah guru yang membiasakan kebiasaan kebiasaan baik kepada muridnya, begitu pula orang tua yang baik akan mengajarkan kebiasaan kebiasaan yang baik kepada anaknya.

Di sekolah-sekolah umum barangkali kurang mengenal istilah "akhlak" sehingga dibuat padanan kata dengan nama "karakter". Pada prinsipnya implementasi "akhlak" dengan "karakter" hampir mirip dan bahkan sama.
Di sekolah yang saya tempati misalnya, para guru membiasakan kepada anak didiknya untuk sapa, salam, salim, dan senyum. Empat kata ini merupakan kata yang sederhana, namun bila dibiasakan kepada anak-anak hasilnya akan luar biasa.

Betapa bahagianya kita sebagai orang tua bila ketika anak pulang ke rumah memberikan sapaan, salam, salim, dan senyum. Tentu saja sebagai orangtua menginginkan hal itu, bukan?

Padahal hal itu hanya bagian dari pembiasaan yang dilakukan di sekolah yang hanya dilakukan oleh sekolah sekitar 4 sampai 8 jam atau maksimal 1/3 hari di kehidupannya.

Sementara sisanya adalah waktu anak di rumah dan tugas orang tua adalah bagaimana membiasakan perilaku-perilaku yang baik kepada anaknya.

Jadi, akhlak itu dijalankan dan dibiasakan bukan diomongkan dan diucapkan secara berulang-ulang sebagai bentuk hafalan anak, atau menjadi bahasan ilmu. Bila dijadikan disiplin ilmu, maka kita akan mendapatkan malaikat yang berwujud manusia. Dan tentu saja hal itu merupakan suatu kemustahilan, Lha … Nabi dan Rasul saja diperlihatkan suatu ibrah (contoh) untuk dapat mengamalkan dan membiasakan suatu hal sehingga menjadi kebiasaan, karakter, dan akhirnya menjadi akhlak mereka.

Ayo mulai sekarang kita biasakan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak-anak kita, kepada murid-murid kita, kepada semua anak di sekitar lingkungan kita. Harapan kita kedepan adalah dengan pembiasaan itu akan menjadi kebiasaan yang baik bagi anak, dijalankan oleh anak, sehingga menjadi karakter dan akhlak mereka.