![]()
Pernahkah anda membuat survey sederhana pada diri Anda sendiri, berapa lama anda memegang (HP gadget)? Ada sahabat saya yang menjawab dalam sehari semalam memegang gadget 1 jam, ada yang menjawab 3 jam, 5 jam, dan bahkan ada yang menjawab 8 jam sehari semalam.
Adalah keniscayaan sekaligus Ironi bagi kita yang hidup pada generasi milenial yang dilengkapi dengan HP (gadget) dan alat telekomunikasi canggih yang lain, namun terkadang kita menggunakannya terlalu overdosis "rino digawe bengi,bengi digawe rino". Peribahasa Jawa yang tampaknya sederhana menggambarkan kebutuhan saya dan Anda dalam menggunakan HP, yang secara terus-menerus bahkan dikatakan memiliki ketergantungan memegang HP, dan merasa aneh bila tidak membawa HP.
Beberapa bulan yang lalu Bupati Kutai Timur, Ir. H. Ismunandar, MT di setiap mengisi sambutan pada pengajian selalu mengajak masyarakat untuk meluangkan waktu jam 18.00 sampai jam 21.00 malam untuk menemani anak mengaji dan belajar bersama. Tampaknya seruan Bupati Kutai Timur ini memacu diri saya pribadi untuk menerapkan aturan dalam keluarga saya, meluangkan waktu beberapa jam di malam hari bersama anak-anak ngaji dan belajar bersama.
Semenjak Nahla, anak perempuan saya dan adiknya anak lelaki saya masuk sekolah dasar (SD) dan taman kanak-kanak (TK), dalam lingkungan keluarga kami membiasakan untuk tidak memegang gadget (HP) selama 3 jam, dimulai pukul 18.00 sampai dengan 21.00 Wita.
Di awal-awal memang berat rasanya untuk tidak memegang HP (gadget) selama beberapa jam, secara HP (gadget) merupakan "kebutuhan pokok" bagi saya baik dalam berkomunikasi, urusan kerjaan maupun dalam bisnis. Hanya telepon yang kira-kira mendesak dan namanya tercantum dalam phonebook saya yang akan saya angkat, selain itu panggilan dengan nama tidak dikenal tidak akan saya angkat, lebih-lebih SMS atau whatApps, atau pun media sosial.
Selama beberapa jam tidak menggunakan HP (gadget) ini saya gunakan untuk mengajari Nahla dan Nala untuk mengaji, dan alhamdulillah Nahla sudah sampai Qiroati 2 sementara Nala baru Qiroati 1. Setelah belajar mengaji bersama dirasa cukup, maka kegiatan keluarga kami selanjutnya adalah membuka buku agenda yang ada pada bukunya Nahla maupun Nala.
Melihat buku agenda ini bertujuan untuk mengetahui pesan yang disampaikan oleh Bapak/Ibu gurunya Nahla dan Nala, apa yang harus dipelajari anak-anak kami dan apa yang harus dipersiapkan atau dibawa keesokan harinya di sekolah.
Setelah saya tahu isi buku agenda anak-anak saya, maka kegiatan kami sekeluarga selanjutnya adalah belajar bersama, pelajaran apakah yang telah dipelajari anak-anak saya dan juga belajar pembelajaran atau materi apakah yang akan diberikan kepada anak saya di sekolah untuk keesokan harinya.
Hal ini saya lakukan untuk membiasakan dalam lingkungan keluarga untuk lebih mementingkan komunikasi dan berinteraksi langsung, daripada hanya sibuk sendiri dan mementingkan HP (gadget). Saya tertarik dengan maqolah "anak adalah investasi masa depan", yang namanya investasi maka mulai dari sekarang harus dipersiapkan dengan baik dan matang bila ingin investasi tersebut menjadi baik dan sukses.
Mohon doanya agar saya dan keluarga kuat dan istiqomah, begitu juga saya doakan kepada "panjenengan" semua agar bisa beristiqomah dalam membiasakan diri 3 jam tanpa HP (gadget), hingga kelak kita akan merasakan bahwa anak-anak akan merasa diperhatikan, merasa disayang, dan merasa didampingi dan diarahkan daripada anak kita terjebak pada asumsi bahwa orang tuanya hanya sibuk mengurusi HP dan lebih sayang HP daripada anaknya.
Sangatta, 18 Juli 2017
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .
