Breaking News

Tua itu Pasti, Dewasa adalah Pilihan

Loading

Tua itu Pasti, Dewasa adalah Pilihan

Sismanto HS

Pagi tadi merupakan hari pertama masuk kerja setelah liburan semester selama dua minggu. Biasanya di hari pertama masuk kerja, kepala sekolah mengumpulkan guru guru di salah satu ruangan kemudian melakukan morning briefing. Tempat yang dipilih adalah ruang guru, tempat para guru-guru hebat di sekolah saya berkumpul, beristirahat, dan mempersiapkan materi pembelajaran sebelum guru-guru masuk di kelasnya masing-masing menemui anak didiknya yang hebat pula.
Salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang kepala sekolah adalah bisa memberikan motivasi kepada anak buahnya, kepada para guru hebat dan tentu saja kepada saya salah satunya. Seperti biasa, dalam morning briefing tersebut kepala sekolah saya memberikan ulasan-ulasan permasalahan, evaluasi kinerja yang telah dilakukan sekolah beberapa hari yang lalu dan program apa saja yang akan dikerjakan satu minggu berikutnya.

Motivasi kepala sekolah di pagi hari itu saya catat sebagai pengingat, sebuah kalimat sederhana namun memiliki makna yang luar biasa “tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Enam belas tahun yang lalu saya juga pernah mendengar kalimat yang sama dari salah satu dosen hebat saya yang mengajar mata kuliah botani tumbuhan tinggi, Bapak Wahyu namanya. Seorang dosen yang tidak ada sekat dengan mahasiswanya ketika berada di luar kelas, namun manakala berada di dalam kelas laksana orang tua yang penuh kedewasaan, penuh keilmuan, dan kearifan.

Barangkali kalimat motivasi inilah yang menjadikan saya menemukan pribadi dan entitas saya yang sekarang ini. Sebagai seorang anak manusia yang tumbuh kembang menjadi pribadi yang dewasa, menjadi seorang anak yang tidak lantas kemudian “gumunan”, “gawok”, dan tidak serta merta menelan mentah-mentah sebuah berita dari sebuah media.

Akhir-akhir ini kita disibukkan oleh banyaknya pemberitaan yang viral dari media sosial dengan pemberitaan pemberitaan yang cenderung memojokkan satu dan lainnya, berita-berita yang memberikan konten-konten yang bukan merupakan menu bergizi bagi otak kita ketika membacanya, berita-berita yang provokatif dan cenderung rasis.

Berita-berita yang sangat provokatif dan membuat hati kesal bila membacanya, misalnya “ketik amin atau klik like, maka Anda akan masuk surga”. Betapa jengkel dan sakitnya orang-orang yang selama ini beragama secara taat, bangun malam hari di saat yang lainnya tertidur lelap untuk beribadah “jungkung” kepada Tuhannya, sementara hanya dengan bilang “amin” atau “like” saja sudah masuk surga.

Berangkat atas latar itulah dan fenomena “like dan shared” di media sosial tanpa ada filtrasi berita dan proses klarifikasi, enam belas tahun yang lalu Bapak Wahyu dosen saya dan hari ini kepala sekolah saya mengucapkan kalimat “tua itu pasti, dewasa itu pilihan”.
Hari ini kita butuh banyak kepala sekolah yang seperti kepala sekolah saya yang selalu menyempatkan diri untuk memberikan motivasi kepada anak buahnya di sekolah, butuh banyak Bapak Wahyu yang bisa memberikan motivasi kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Mari bersama saya perangi berita-berita negatif, berita-berita hoax dengan menggunakan akal dan pikiran kita, jadikan frame otak dan mindset kita “Turn back hoax”. Bila Anda belum pernah mendengar kalimat pepatah ini sekaranglah saatnya setelah Anda membaca tulisan ini untuk memulainya. Usia kita selalu bertambah dan menjadi tua itu pasti, sementara pilihannya adalah kita menjadi orang dengan pribadi yang dewasa(*)

Sangatta, 09-01-2017

Gabung dan dapatkan inspirasi kehidupan di https://telegram.me/peradaban

https://facebook.com/sismantohs

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading