Breaking News

Adab Pemain Bola

Loading

@Sismanto HS
Sejak kecil kita diajari oleh orang tua, guru di sekolah maupun guru ngaji di kampung tentang bagaimana sopan santun dan tata krama kepada orang lain. Baik itu tata krama kepada orang yang lebih muda, teman sebaya, dan lebih-lebih kepada orang yang lebih tua.
Pembelajaran kepada kita yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu sangatlah membekas, lebih-lebih apabila tata krama dan sopan santun (adab) itu merupakan sebuah pembiasaan yang dilakukan berkali-kali dan terus menerus, sehingga menjadikan sebagai habit pada diri kita, dan hal tersebut merupakan salah satu ciri yang diajarkan oleh agama maupun budaya kita.
Sebagai suatu bangsa, Indonesia memegang erat norma dan tradisi kebudayaan. Tanpa memiliki budaya sebagai entitas suatu bangsa, maka bangsa tersebut tidak bisa dikatakan bangsa yang beradab. Alhamdulillah, kita hidup di Indonesia yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma budaya yang tinggi sehingga tradisi kebudayaan Indonesia ini sudah seharusnya dilestarikan oleh generasi penerus bangsa.
Begitu juga dalam hal agama, Indonesia memiliki berbagai macam agama dan aliran kepercayaan dengan mayoritas penduduk muslim. Dalam agama Islam yang saya yakini, tentu saja orang yang beragama seharusnya tidak hanya ‘beriman’. ‘berIslam’ tetapi penting bagi orang beragama tersebut adalah ‘berihsan’. Term kata yang terakhir inilah yang kadang-kadang dilupakan oleh orang beragama.
Dengan dilatari dua hal tersebut, baik kebudayaan maupun keIslaman. Budaya yang sudah mentradisi sebagai khazanah budaya Indonesia dengan diperkuat dengan keIslaman, maka sudah seharusnya adab orang Indonesia dengan bangsa lain tentunya berbeda, lebih-lebih terhadap orang yang tidak pernah belajar tentang adab.
Hal nyata yang patut kita banggakan dan lestarikan adalah ketika pembukaan pertandingan babak perdelapan final liga Danone melawan Argentina. Tim Nasional (Timnas) U-12
menerapkan tradisi cium tangan para wasit di Perancis.
Biasanya, pada pembukaan pertandingan sepak bola para pemain bersalaman dengan wasit dan pemain dari tim lawan. Menariknya mereka tidak hanya sekedar bersalaman tetapi mencium tangan para wasit yang dianggap lebih tua. Sebuah tradisi kesantunan di Tanah Air. Mencium tangan mereka yang dianggap lebih tua. Justru yang aneh ketika kebiasaan itu ditiru oleh pemain lawan dari salah satu negara Afrika. Mereka mencium tangan para pemain Indonesia, padahal bila bersalaman dengan teman sebaya cukup bersalaman saja, tidak perlu mencium tangan.
Contoh lain yang membuat kita bangga adalah adab perilaku dan kesopanan yang dilakukan oleh penyerang Garuda Muda M. Rafli Mursalim ketika melawan timnas Singapura dalam piala AFF di stadion Deltras Sidoarjo. Rafly tertangkap kamera minum sambil duduk, sebuah tradisi baik dan tuntunan agama minum sambil duduk. Pada pertandingan ini Rafly Mursalim mencetak 2 gol dengan kemenangan Indonesia (4) dan Singapura (0).
Rafly Mursalim merupakan kualitas pemain yang lahir dari event Liga santri. Striker bernomor punggung sembilan ini merupakan santri di Pondok Pesantren Al Asy’Ariyah, Tangerang, Banten jebolan Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 dengan meraih gelar top scorer 15 gol sekaligus menyabet penghargaan sebagai pemain terbaik pada ajang tersebut.
Bagi saya, adab itu dijalankan dan dibiasakan bukan diomongkan dan diucapkan secara berulang-ulang sebagai bentuk hafalan anak, atau menjadi bahasan ilmu. Bila dijadikan disiplin ilmu, maka kita akan mendapatkan malaikat yang berwujud manusia. Dan tentu saja hal itu merupakan suatu kemustahilan, Lha … Nabi dan Rasul saja diperlihatkan suatu ibrah (contoh) untuk dapat mengamalkan dan membiasakan suatu hal sehingga menjadi kebiasaan, karakter, dan akhirnya menjadi adab mereka.
Timnas U-12 dan Rafli merupakan contoh kecil yang membuka mata kita bahwa Indonesia memiliki budaya dan tradisi keagamaan yang kuat. Mulai sekarang kita biasakan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak-anak kita, kepada murid-murid kita, kepada semua anak di sekitar lingkungan kita. Harapan kita kedepan adalah dengan pembiasaan itu akan menjadi kebiasaan yang baik bagi anak, dijalankan oleh anak, sehingga menjadi karakter dan akhlak mereka.
Source:
gambar FB nya Mas Bayu Gawtama

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading