Breaking News

Diplekotho

Loading

Tadi malam saya menghadiri acara halal bihalal dan sekaligus haul Habib Thoyib Hasan Ba’abud di sebuah majelis yang rutin membaca sholawat Burdah setiap malam Senin, pengajian kitab Al Hikam (setiap malam Kamis), Bidayatul Hidayah (malam Rabu). Sebuah majelis pengajian yang rutin dan hampir dihadiri ratusan jamaah.
Saya diminta untuk berceramah pada acara tersebut, padahal banyak kyai dan ulama yang lebih mumpuni secara keilmuan maupun kewinarahan. Bagi saya, hal itu merupakan sebuah tradisi di kalangan santri ‘diplekotho’ atau bila menggunakan bahasa kampus ‘diOSPEK’. Yaitu, sebuah tradisi dimana seorang santri yunior diminta melakukan kegiatan oleh santri senior (kyai).
Pada kesempatan itu saya menyampaikan hikmah dan sejarah munculnya halal bihalal serta beberapa amalia tradisi Islam nusantara yang perlu dilestarikan. Disamping itu pula, berkaca pada sebuah cerita Sayyid Rahmad putra dari Syekh Sayyid Ibrahim Asmoroqondi yang kemudian kita kenal dengan nama Sunan Ampel.
Ketika Sayyid Rahmad berada di Majapahit mengunjungi Budhenya Dewi Martaningrum (kakak Dewi Candrawulan, Ibu Sayyid Rahmad), ia merasa kesepian dan tidak mendapatkan orang yang beragama Islam sehingga Sayyid Rahmat tidak betah tinggal di Majapahit dan pamit ke Prabu Brawijaya serta meminta pulang ke kerajaan Cempa (daerah Vietnam). Namun Prabu Brawijaya memintanya untuk tetap tinggal di daerah Majapahit dan diberi tanah perdikan di daerah Ampel Denta (Gresik).
Di Ampel Denta inilah Sayyid Rahmat kemudian menyebarkan agama Islam dengan rahmah. Mengajarkan Islam dengan mauidhah hasanah dan ilmu hikmah ke penduduk setempat, hingga kemudian banyak muridnya yang berhasil menjadi ulama dan wali yang memjadi paku buminya Islam di tanah Jawa. Metode dakwah para wali yang ramah dan santun inilah yang kemudian dilestarikan dan tetap dipertahankan oleh Nahdlatul Ulama yang saat ini mengembangkan ‘Islam nusantara’ untuk peradaban dunia.
#kopyah_awing

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading