![]()
Seiring bertambah usia seorang anak, mereka mulai mengenal dan bermain bersama teman-temannya, dan disertai dengan lingkungan yang mendukung, maka anak saya mulai mengenal teman di sekitaran rumah. Tiga bulan terakhir ini Nahla anak perempuan saya yang pertama dan kadang-kadang adiknya si kecil ikut bersama-sama sholat berjamaah di masjid.
Bersama dengan teman-teman sepantaran yang berada di sekitar rumah serta kebiasaan belajar bersama di madrasah di sore hari, sampai pada akhirnya mereka berinisiatif berangkat ke masjid sendiri untuk sholat berjamaah. Padahal, ketika awal-awal mengajari supaya anak-anak bersemangat shalat berjamaah di masjid, maka yang saya lakukan adalah mengajak anak berangkat bersama ke masjid untuk sholat berjamaah.
Bagi saya, sholat berjamaah yang paling mudah diajarkan kepada anak adalah pada waktunya shalat berjamaah maghrib. Hal ini selalu saya lakukan rutin sehingga tanpa dikomando anak-anak sudah tahu bahwa ketika waktunya sholat maghrib berjamaah tiba, mereka akan "tanggap suwasono" mempersiapkan dirinya untuk kemudian berangkat bersama-sama.
Alhamdulillah, sekarang Ini tanpa dikomando anak-anak sudah berangkat sendiri ke masjid untuk sholat berjamaah bersama dengan teman-temannya. Namun demikian, jarak rumah dengan masjid yang lumayan jauh serta melewati jalanan kampung yang ramai lalu lalang kendaraan bermotor membuat pikiran siapapun orang tuanya akan was-was. Bagi anak kelas satu sekolah dasar untuk menyeberang jalan raya merupakan hal yang sangat berbahaya bila tidak didampingi oleh orang dewasa.
Rasa was-was itu saya coba tepis dengan memberi kepercayaan kepada anak dengan mengajarinya cara menyeberang jalan. Seseorang yang ingin menyeberang jalan tidak langsung serta merta berjalan lurus ke depan, tetapi sebelumnya harus menoleh kekanan dan kekiri berulang kali. Bahkan, ketika berada di tengah jalan pun tetap menengok kekanan dan kekiri.
Permasalahan yang muncul kemudian ternyata terletak pada saya yang awalnya mengajari anak untuk sholat berjamaah di masjid. Ternyata, saya sendiri malahan mulai jarang sholat berjamaah di masjid. Beberapa kesibukan duniawi mengakibatkan saya lalai dengan kebiasaan yang harus diistiqamahkan yang diajarkan para guru-guru waktu di kampung maupun para kyai saya ketika berada di pondok pesantren.
"Menjadi pribadi yang istiqomah dalam menjalankan kebaikan itu berat, butuh melakukannya secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan," kata Mbah Him salah seorang kiai saya di pondok pesantren. Hal tersebut diperkuat dengan sebuah maqolah "al istiqomatu gholabatul karomah" sebuah Istiqomah yang tekun dapat mengalahkan kemampuan diluar batas kemanusiaan (karomah) itu nampaknya semakin menjauh dari ideal.
Kini, ketika anak-anak sudah mulai semangat sholat berjamaah bersama dengan teman-temannya di masjid. Hal yang selalu ia minta adalah dijemput ketika akan pulang dari masjid. Saya hampir setiap hari ketika selesai sholat maghrib menjemput anak perempuan saya yang sedang sholat berjamaah bersama dengan teman-temannya.
Melihat semangat anak yang tekun sholat berjamaah rasa-rasanya hati saya ingin mengikuti jejaknya kembali. Saya jadi kepikiran daripada hanya sekedar menjemput anak pulang sholat berjamaah di masjid mengapa tidak sekalian saya ikut sholat berjamaah.
Alhamdulillah, meskipun ikut sholat berjamaah karena menjemput anak setidaknya saya bisa belajar untuk belajar beristiqamah kembali sholat berjamaan meskipun baru sekedar waktu sholat magrib. Mudah-mudahan di masa-masa mendatang saya, anak-anak, keluarga, dan mudah-mudahan dapat sumerambah kepada panjenengan semuanya bisa beristiqomah di dalam segala hal. Tidak hanya Istiqomah dalam sholat berjamaah tetapi juga dapat beristiqomah dalam melakukan kebaikan kebaikan.
__________________
#Noto_Sandal_Sakdurunge_Noto_Ati