Breaking News

Dala’il al-Khayrat

Loading

Di masa pertengahan sekolah di tingkat SMA, saya mendapatkan banyak masukan dari para Kiai dan guru-guru untuk lebih menekuni lagi tentang ilmu agama. Disamping itu, saya juga disarankan untuk melakukan berbagai macam ritual puasa untuk menata hati dan mengolah latihan fisik (riyadhoh) untuk lebih mengenal tentang ilmu agama.

Saya kemudian mencari seorang guru Kyai yang mempunyai ijazah kursus tentang riyadhoh puasa. Dari seorang kyai tersebut saya mendapatkan sebuah amalan khusus yang saya dapatkan dan diijazahi langsung oleh KH Ahmad Basyir, pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Ijazah riyadhah puasa pertama adalah puasa Alquran, artinya setiap hari melakukan ibadah puasa selama setahun dan hanya lima hari dalam setahun yang tidak diperbolehkan berpuasa, yaitu dua hari lebaran dan tiga hari tasyrik. Pada lima hari ini saya libur tidak berpuasa.

Sebelum mengamalkan puasa Alquran, saya terlebih dahulu harus mempersiapkan diri dengan puasa tujuh hari dengan cara puasa Nyirih (tidak makan makanan yang memiliki roh), baru kemudian meneruskan dengan puasa selama satu tahun dengan amalan tiap hari yang dibaca adalah minimal satu juz alquran. Artinya, selama satu bulan saya harus mengkhatamkan al-quran.

Seusai berpuasa satu tahun Alquran, saya mendapatkan ijazah lagi dari pak KH Ahmad Basyir untuk melanjutkan puasa Dala’il al-khoirot. Puasa ini dijalankan selama tiga tahun, untuk berpuasa ini terlebih dahulu seorang santri harus puasa nyirih tidak makan makanan yang bernyawa selama tiga minggu, baru kemudian melanjutkan puasa dalail al khoirot selama tiga tahun berturut turut.

Saya menyelesaikan puasa ini sampai semester tujuh di kampus. Bertahun-tahun menjalani ritual puasa ini saya gunakan sebagai bentuk riyadhah dan juga menambah daftar panjang kebiasaan puasa para santri dalam menuntut ilmu agama. Santri harus membiasakan diri perut dalam keadaan lapar sehingga mempermudah untuk belajar agama.

Banyak orang mempertanyakan apa itu Dala’il Khoirot? Pada zaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah ada istilah puasa selama bertahun-tahun, namun saya sampaikan bahwa dala’il al-Khayrat merupakan koleksi doa-doa terkenal untuk kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang ditulis oleh seorang Sufi dari negara Maroko Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli ash Shadhili (meninggal 1465).

Kitab Ini populer di beberapa bagian dunia Islam di antaranya muslim tradisional, khususnya Afrika Utara, Turki, dan Asia Selatan. Pembacaannya juga unik dibagi menjadi beberapa bagian untuk pembacaan harian.

Pakar hadits Maroko ‘Abdullah al-Talidi menuliskan tentang Dala’il al-Khayrat: "Jutaan Muslim dari Timur ke Barat mencoba dan menemukan kebaikan, barakah, dan manfaatnya selama berabad-abad dan dari generasi ke generasi, dan menyaksikan spiritualnya yang tidak dapat dipercaya. Orang-orang Muslim mengulang-ngulang membacanya, baik sendirian maupun berkelompok di rumah-rumah dan masjid.

Disamping itu, Dala’il al-Khayrat merupakan buku besar pertama dalam sejarah Islam yang mengumpulkan litani perdamaian dan berkah atas kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kitab Ini juga merupakan kumpulan litani yang paling populer dan paling diakui secara universal meminta Allah swt untuk memberkati Nabi Muhammad Saw. Di antara amalan Sunni, terutama tatanan Shadhili-Jazuli, pengajiannya adalah praktik sehari-hari. Namun di lain orang, pembacaan dimulai dengan sembilan puluh sembilan nama Tuhan, dan kemudian koleksi lebih dari seratus nama Muhammad.

Legenda di balik asal muasal Dala’il al-Khayrat bahwa al-Jazuli pernah bangun terlambat untuk sholat paginya dan mulai mencari air murni untuk melakukan ritual berwudhu. Di tengah pencariannya, Al-Jazuli bertemu dengan seorang gadis muda yang sadar akan religiusitas al-Jazuli yang terkenal dan bingung mengapa al-Jazuli tidak dapat menemukan air murni.

Gadis itu kemudian meludah ke sumur yang secara ajaib meluap dengan air murni untuk al-Jazuli melakukan wudhu. Sebagai konsekuensi untuk melakukan sholat, al-Jazuli bertanya pada gadis itu bagaimana mencapai tingkat spiritual yang demikian tinggi. Gadis itu menjawab itu hanya dengan "Berdoa secara terus-menerus agar Allah memberkati yang terbaik dari ciptaan dengan jumlah nafas dan detak jantung."

Al-Jazuli kemudian memutuskan untuk menulis karya dengan cara mengumpulkan litani doa yang meminta Allah untuk memberkati dan menunjukkan belas kasihan dan kebaikan kepada Muhammad.

Al-Jazuli kemudian pindah ke Timur Madinah di mana dia akan membaca seluruh Dala’il al-Khayrat dua kali sehari di makam Nabi Muhammad SAW di masjid an-Nabawi. Dala’il Khayrat sejak itu dilihat sebagai bukti cinta dan kerinduan yang mendalam terhadap Muhammad SAW.

Banyak tafsir ditulis tentang Dala’il Khayrat, terutama oleh seorang ulama Yusuf an-Nabhani dalam karyanya Afdal al-Salawat, dan ‘Abd al-Majid al-Sharnubi al-Azhari, Sharh Dala’il Khayrat. Sebuah era Ottoman klasik karya Kara Davud sangat populer di Turki, berjudul Muwafik-ul Khayrat Linayl-el Barakat Fi Khidmat-as Saadat, yang dikenal sebagai "Kara Davud".

#Noto_Sandal_Sakdurunge_Noto_Ati
*) dari berbagai sumber

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading