Breaking News

Gethuk Lindri

Loading

Gethuk Lindri
Sismanto HS

getuk-singkong-lindri-pulen-enakPagi hari sebelum saya membuka mata, menyambut mentari pagi telinga saya sudah mendengar suara mesin-mesin diesel kapal yang akan berangkat mencari ikan. Pagi itu, hampir semua warga nelayan di kampung saya pergi melaut. Sementara saya tidak ikut dalam rombongan suara-suara mesin dan para nelayan yang akan berangkat ke laut mencari ikan. Beberapa jam kemudian, saya mengantar ibu ke pabrik juragannya. Eittsss…kenalkan terlebih dahulu, Ibu saya adalah seorang suplier nelayan, kerjanya adalah menampung hasil penjualan ikan nelayan kemudian menjualnya lagi ke pabrik atau ke bandar yang lebih besar. Sekembalinya dari pabrik yang jaraknya kurang lebih sepuluh kilo itu perut terasa agak lapar, semacam ada sesuatu yang meronta-meronta, kebiasaan kalau perut saya sedang lapar.

Padahal, pagi itu ibu tidak memasak untuk keluarga. Saya pun maklum waktu masih terlalu pagi untuk sarapan. Lantas, saya mengalihkan pandangan perut yang sudah lapar suatu tempat di belakang rumah, belakang kamarku. Tempat itu kalau siang hari digunakan sebagai TPI (Tempat Pelelangan Ikan), sementara paginya digunakan para pedagang sebagai pasar di desa saya. Terpaksa, pasar itu yang jadi sasaran atas permintaan perut yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
Beberapa tapak kaki saja saya sudah sampai di tengah pasar yang memang tidak begitu besar. Pandangan saya tertuju pada makanan yang berwarna warni, ada warna merah, kuning, dan hijau. Bahan pokoknya juga dari singkong yang dibumbuhi dengan pewarna makanan biar tampak lebih menarik. Sebelum dibungkus dengan daun terlebih dahulu penjualnya membubuhinya dengan kelapa yang sudah diparut, dialah “Gethuk Lindri” mirip seperti pelangi. Bisa jadi kalau menjadi sebuah novel judulnya menjadi “Gethuk Pelangi”, seperti punyanya Andrea Hirata “Laskas Pelangi” atau Samsikin Abu Daldiri dengan “Rumah Pelangi”nya.

Bukan-bukan..!! tidak sesuai jika disamakan dengan novel-novel itu. Laskar pelangi sebagai sebuah novel yang menggegerkan dunia sastra dan pembaca, rumah pelangi sebagai memoar guru di tengah basis kaum komunis, sementara gethuk pelangi hanyalah sebuah makanan yang beraneka warna saja.
Jika dikaitkan dengan tempat yang saya beli, di pasar malah saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, manakala saya harus mengantar ibu ke pasar. Jauh-jauh hari saya telah mempersiapkan diri untuk acara itu, pakaian sudah saya setrika, sepatu juga saya persiapkan, dan celana.

Hari itu baju saya masukkan dengan ikat pinggang, biar tampak perlente dengan sepatu yang sudah saya semir. Ibu di depanku mengajakku membeli di pasar itu, tempat yang paling tidak saya sukai sampai sekarang. Hampir teman-teman, saudara-saudara, atau bahkan orang tua sendiri kalau ingin mengajak saya ke tempat itu saya akan berpikir ulang, mereka akan beranggapan bahwa saya tidak akan mau diajaknya ke sana. Mengapa? Trauma? Bisa jadi iya.

Lha wong sudah macak ganteng kayak begitu dengan pakaian perlente, eh malah diajak ke pasar, Ingat 20 taun lalu ketika di pasar bersama ibu. Di sebelah kanan kiri tangan saya membawa ayam yang akan dipotong untuk suatu acara. Itupun tidak langsung pulang, tetapi masih menunggui ibu yang asyik menawar barang jualan yang ada di Pasar. Kapok..!!!

FanPage facebook
https://facebook.com/sismantohs

Gabung dan dapatkan inspirasi kehidupan di https://telegram.me/peradaban

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading