Breaking News

Inval

Loading

Inval merupakan kegiatan di mana seorang guru menggantikan guru lain yang tidak bisa mengajar di jam pembelajarannya. Seorang guru sebenarnya tidak ingin pembelajarannya pada jam pembelajarannya diinfal oleh guru yang lain karena merupakan tugas dan kewajibannya menjadi seorang guru.
Namun tidak menutup kemungkinan adanya sesuatu diluar batas kemampuan manusia sehingga jam pembelajaran guru tersebut diinfal oleh guru lain. Misalnya saja seorang guru dalam kondisi emergency atau mendapatkan tugas dari sekolah sebagaimana halnya Pak Agus seorang guru olahraga yang ada di sekolah saya.
Kebetulan murid yang diampu Pak Agus juga anak didik saya di kelas, saya adalah wali kelas mereka dan yang paling mudah dan gampang sebagai guru infal adalah wali kelasnya karena bertepatan dengan jam kosong yang saya miliki.
Bagi anak sekolah dasar, olahraga yang paling disenangi dan diminati adalah olahraga sepak bola, maka karena tidak ada bahan infal saya putuskan untuk memberikan materi olahraga sepakbola. Mereka saya bagi menjadi dua kelompok, tim A dan tim B.
Saya amati terlebih dahulu mana tim yang paling kuat dengan memasukkan bola ke gawang lawan, selang beberapa saat di tengah-tengah pertandingan tim A untuk sementara unggul dengan skor 5-3. Tim B sebagai tim yang ketinggalan skor pertandingan maka saya putuskan untuk memberikan coaching dan saya sebagai pelatihnya.
Saya berdiri dan berjalan mondar-mandir laksana seorang manajer sepak bola modern, sambil tersenyum seakan-akan diri saya seperti layaknya Jose Mourinho yang melatih tim Porto 2002-2004. Sebagai pelatih tim yang tidak diunggulkan, ternyata Jose Mourinho mampu membabat habis lawan demi lawan sehingga akhirnya Porto menjadi juara liga UEFA dan tahun berikutnya menjadi juara liga Champion.
Saya amati terlebih dahulu permainan mereka karena sebagai seorang pelatih sekaligus manajer tim saya harus tahu potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh tim yang saya latih. Setelah tahu beberapa kemampuan yang dimiliki oleh anak latih, saya kemudian membagi anak-anak tim B ke posisi masing-masing ada yang bertugas sebagai back, gelandang, dan penyerang.
Posisi back karena ditempati anak yang kurang memiliki skill dalam bermain sepak bola, maka saya putuskan memberikan instruksi kepadanya untuk membuang ke depan setiap bola yang datang kepadanya. Begitu juga yang berposisi sebagai gelandang, setiap mendapatkan bola jangan terlalu lama menggiring dan membawa bola langsung saja memberikan umpan ke depan gawang, dan pada akhirnya posisi penyerang (striker) bertugas setiap mendapatkan bola langsung menembak bola ke gawang lawan.
Ternyata strategi ini berjalan sesuai apa yang saya harapkan dan gol demi gol kemudian tercipta, tim yang awalnya kalah dalam pertandingan itu akhirnya memenangkan dengan skor 7- 5. Saya pun pantas duduk dengan santai seperti menirukan Jose Mourinho ketika timnya sudah leading dengan skor yang tidak mungkin dikejar lawannya.
Bertugas menginfal guru olahraga hari ini mengingatkan saya beberapa puluh tahun yang lalu ketika menjadi murid sebuah sekolah Dasar di kampung halaman. Kegiatan olahraga yang diadakan oleh guru olahraga saya selalu menonton, hanya olahraga kasti mengingat sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah hanya beberapa bola dan tongkat kasti.
Berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada sekarang, rata-rata standar pelayanan minimal (SPM) pendidikan hampir terpenuhi, sehingga secara tidak langsung anak didik diberi fasilitas untuk mengembangkan diri berdasarkan bakat dan minatnya. Untuk itu, saya yakin ke depan anak didik saya dan generasi penerus bangsa ini menjadi lebih baik lagi dibanding dengan generasi jamannya saya. Semoga (*)

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading