![]()
KHUTBAH PERTAMA
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْـحَمْدُ لِلَّهِ، الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، رَبُّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ بِالْكِتَابِ الْمُبِيْنِ، الْفَارِقِ بَيْنَ الْهُدٰى وَالضَّلَالِ، وَالْغِيِّ وَالرَّشَادِ، وَالشَّكِّ وَالْيَقِيْنِ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ”
Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita awali khutbah ini dengan memperbaharui niat dalam hati: untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, ketakwaanlah yang menjadi ukuran paling mulia di sisi Allah, bukan harta, jabatan, atau status sosial.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di tengah dinamika kehidupan modern yang sarat dengan tantangan ekonomi, tekanan sosial, serta derasnya arus teknologi, banyak orang terdorong untuk terjun ke dunia usaha. Menjadi seorang entrepreneur kini bukan lagi sekadar pilihan karir, melainkan telah menjadi ladang amal sekaligus arena mujāhadah yaitu perjuangan spiritual yang selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Dalam sebuah disertasi ilmiah yang membahas nilai-nilai mujahadah dalam praktik kewirausahaan Muslim, ditemukan bahwa banyak pengusaha Muslim membangun usahanya tidak semata-mata demi keuntungan materi, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Usaha mereka dilandasi nilai-nilai spiritual, etika Islam, serta tanggung jawab sosial. Inilah yang membedakan entrepreneur Muslim dari pelaku bisnis konvensional: orientasinya bukan hanya pada profit, melainkan pada makna ibadah dan kebermanfaatan sosial.
Dalam disertasi yang saya susun di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, saya meneliti praktik mujahadah para pengusaha kuliner Muslim di Kabupaten Kutai Timur. Temuan lapangan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya berdagang, tetapi sekaligus mempraktikkan nilai-nilai spiritual dalam setiap proses usaha mereka. Hal ini memperkuat pemahaman bahwa bisnis, dalam perspektif Islam, dapat menjadi sarana penyucian jiwa dan penguatan keimanan.
Konsep mujahadah dalam dunia usaha juga ditegaskan oleh Imam al-Ghazali. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, beliau menjelaskan bahwa mujāhadah adalah perjuangan melawan hawa nafsu dan dorongan duniawi, serta menjadi jalan utama menuju kesempurnaan spiritual. Menurut beliau, seseorang tidak akan mencapai derajat kedekatan ruhani kecuali melalui latihan jiwa yang panjang dan konsisten.
Pandangan ini diperkuat oleh Abu Laits as-Samarqandi dalam Tanbīh al-Ghāfilīn. Beliau menekankan bahwa dalam menjalankan usaha, seorang Muslim harus memperhatikan tiga prinsip penting:
1. Menjaga niat agar usaha dilakukan untuk mempertahankan kehormatan diri dan keluarganya, bukan untuk kesombongan atau akumulasi kekayaan semata;
2. Tidak berlebihan dalam bekerja, sehingga lalai dalam menunaikan kewajiban ibadah;
3. Meyakini bahwa rezeki adalah karunia Allah, bukan semata hasil kerja keras manusia. Usaha hanyalah jalan, sementara hasilnya adalah hak prerogatif Allah SWT.
Berikut ini adalah enam nilai utama mujahadah yang saya temukan dalam praktik bisnis para pelaku usaha Muslim:
1. Niat sebagai pusat gravitasi usaha
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi seorang Muslim, usaha bukan sekadar mencari keuntungan. Niatnya adalah untuk menjaga harga diri, menafkahi keluarga, menjauhi tangan di bawah, dan menjadi bagian dari solusi umat.
Niat yang lurus akan menghindarkan dari praktik tidak jujur: riba, tipu daya, monopoli, dan penimbunan. Niat ini adalah kekuatan pertama dalam mujahadah bisnis.
2. Ikhtiar: usaha nyata sebagai wujud tanggung jawab
Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu.” (QS. At-Taubah: 105)
Ikhtiar adalah tindakan. Ia menjembatani antara niat dan hasil. Dalam praktiknya, ikhtiar meliputi perencanaan matang, manajemen profesional, pelayanan jujur, dan evaluasi rutin. Entrepreneur Muslim yang memahami makna ikhtiar tidak akan menyalahkan takdir sebelum bekerja keras.
3. Kerja keras: mujahadah fisik dan psikis
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Kerja keras adalah manifestasi nyata dari mujahadah. Pelaku usaha Muslim harus rela mengorbankan waktu, kenyamanan, bahkan kadang harta, untuk mencapai cita-cita usahanya. Tapi kerja keras itu bukan sekadar kerja fisik, melainkan juga kesungguhan hati.
4. Manfaat: menebar keberkahan, bukan hanya keuntungan
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad)
Usaha yang baik bukan yang paling besar omzetnya, tetapi yang paling banyak manfaatnya. Misalnya: membuka lapangan kerja, berbagi keuntungan dengan yatim, menyalurkan zakat, dan memberi harga adil kepada konsumen.
Inilah nilai mujahadah sosial: memberi, bukan hanya mengambil. Menjadi sebab bagi kebaikan, bukan sekadar pencari laba.
5. Doa: dimensi langit dalam kerja dunia
Rasulullah SAW bersabda:
الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ
“Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Seorang entrepreneur Muslim tidak melangkah tanpa berdoa. Ia tahu bahwa sekuat apa pun usahanya, hanya Allah yang mampu memberikan keberhasilan.
Doa bukan hanya di awal usaha, tetapi dalam setiap proses: saat merancang, saat memilih karyawan, saat menghadapi kerugian, bahkan saat harus bersabar menerima hasil di luar harapan.
6. Tsiqah: keyakinan kepada janji Allah
Tsiqah artinya yakin – yakin bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Memberi. Keyakinan ini menjaga hati agar tidak tergoda mengambil jalan pintas atau berlaku zalim demi keuntungan sesaat.
Tsiqah juga menghindarkan dari rasa iri, karena seorang Muslim percaya bahwa rezeki telah ditakar oleh Allah. Yang penting adalah prosesnya benar dan halal.
Jamaah sekalian yang berbahagia,
Nilai-nilai niat, ikhtiar, kerja keras, manfaat, doa, dan tsiqah adalah fondasi dari entrepreneurship yang Islami. Nilai-nilai ini pula yang menjadi mujahadah nyata di tengah derasnya tantangan ekonomi hari ini.
Maka, siapa pun kita petani, pedagang, ASN, guru, nelayan, bahkan pejabat—mari jadikan pekerjaan sebagai bentuk mujahadah. Luruskan niat, perkuat ikhtiar, dan berdoalah dalam setiap langkah. Maka insyaAllah, Allah akan bukakan jalan dan berkahi hasilnya.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا • إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ، وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ.
Khutbah 2
الْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْإِتِّحَادِ، وَالِاعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَشُكْرِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ أَمْرًا عَظِيْمًا، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ:
“إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ، وَالْغَلَاءَ، وَالْفَحْشَاءَ، وَالْمُنْكَرَ، وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً، وَمِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِوَالِدِيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِيْنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ، وَالْمُنْكَرِ، وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .