Loading

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa terpencil di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Desa yang berada paling ujung timur dari wilayah Kabupaten Pati ini berbatasan langsung dengan wilayah paling barat Kabupaten Rembang. Desa saya terdapat sungai yang dikenal dengan sebutan "kaliori" itulah sebagai pembatas wilayah antara Kabupaten Pati dan Rembang. Menurut sejarahnya dari orang tua saya, mengapa kali tersebut dinamakan Kaliori adalah berasal dari dua kata "kali" yang berarti "sungai" dan "ori" atau nama salah satu spesies bambu, bamboosa, sp. Salah satu tumbuhan yang banyak tumbuh di sepanjang sungai Kaliori. Di sungai inilah tempat bersandar perahu-perahu nelayan ketika pulang dari melaut.

Kontur daerah pinggiran pantai dan sungai menjadikan desa saya mayoritas penduduknya sehari-hari bekerja sebagai petani tambak dan sebagai seorang nelayan, menggantungkan nasibnya pada hasil tangkapan ikan di laut, kemudian menjualnya ke tengkulak-tengkulak atau bakul-bakul ikan yang ada di "kongsi" tempat pelelangan ikan yang ada di desa saya.

Ibu saya juga seorang bakul ikan yang ada di kongsi tersebut, biasanya ibu saya berada di kongsi manakala para nelayan datang dari melaut, sekitar pukul 14.00 sampai dengan 16.00 waktu setempat. Namun, tidak menutup kemungkinan juga karena para nelayan pulangnya juga tidak bersamaan, maka malam hari itu juga ketika para nelayan datang dari laut, nelayan akan datang ke rumah Ibu saya untuk menjual hasil ikan tangkapannya.

Banyak istilah yang menggambarkan tentang masa kecil sebagaimana ungkapan "masa kecil adalah masa bahagia", "masa kecil kurang bahagia", dan ada juga yang lebih ekstrim "masa kecil kurang biaya". Entah masa kecil saya masuk dalam kategori yang mana, hampir kesemuanya masuk dan pernah menghiasi keadaan saya. Bagi saya, gilir gumanti keadaan itulah makna kebahagian seorang anak yang patut disyukuri.

Sebagaimana ungkapan yang pertama "masa kecil adalah masa bahagia". Saat usia anak-anak merupakan masa bahagia, masa dimana ketika usia anak banyak keadaan dan kejadian yang membahagiakan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya ketika masa kecil, kondisi orang tua masih lengkap dan apapun yang diminta oleh anak akan senantiasa berusaha dipenuhi oleh orang tuanya. ini yang saya katakan bahwa masa kecil adalah masa-masa yang membahagiakan.

Masa kecil kurang biaya, ini merupakan masa-masa yang hampir pernah terjadi pada semua usia anak-anak seusia saya. Barangkali gaya hidup dan tingkat kemiskinan yang hampir menjangkiti penduduk Indonesia, sehingga anak-anak pada usia saya waktu itu tidak dibekali dengan biaya yang cukup, tidak dibekali dengan fasilitas yang super mewah, dan hanya dibekali beberapa fasilitas ala kadarnya, itupun hasil dari modifikasi dan kreativitas anak-anak seusia saya.

Mengingat tidak dibekali dengan biaya yang cukup itulah waktu saya usia sekolah dasar, saya hanya bermain dengan ala kadarnya. Saya melakukan permainan dengan teman sebaya dengan permainan-permainan yang tidak banyak mengeluarkan biaya, permainan-permainan dengan menggunakan barang-barang bekas atau sudah tidak digunakan lagi. Salah satu kegiatan yang sangat saya sukai sekali semasa usia sekolah dasar dikampung adalah berenang.

Berenang merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan anak-anak, dan hampir semua anak-anak usia sekolah dasar di desa saya bisa berenang, sehingga tidak membutuhkan biaya yang banyak untuk bisa berenang, tidak seperti anak-anak yang berada di kota untuk bisa berenang saja, mereka harus mengeluarkan biaya untuk membiayai sewa kolam renang dan juga biaya pelatih renang. Berbeda dengan anak usia sekolah dasar di kota-kota sekarang ini manakala mereka belum bisa berenang, anak-anak yang tinggal di perkotaan akan menggunakan bantuan ban bekas atau balon agar tidak tenggelam.

Salah satu bentuk proses kreativitas anak-anak yang ada di desa saya manakala belum bisa berenang, mereka diajari terlebih dahulu bagaimana cara "ngambang", dipegangi oleh temannya yang sudah bisa, dan ada pula yanga menggunakan alat bantu agar tidak tenggelam, dan ada pula yang sudah bisa berenang mereka menggunakan alat bantu yang disebut dengan "landangan".

Landangan merupakan alat bantu bagi para pemula di desa saya untuk berenang di sungai Kaliori. Karakteristik landangan biasanya menggunakan sebuah bambu dengan ukuran lima sampai dengan sepuluh meteran, kemudian bambu itu dikupas dan dihilangi kulitnya. Sebagaimana karakteristik bambu-bambu yang lain, bambu yang saya gunakan adalah bambu yang bisa mengapung dan tidak tenggelam. Landangan bisa juga menggunakan bahan dari gedebok, batang pisang sudah dihilangkan daun dan pelepahnya. Dengan landangan ini jugalah yang digunakan sebagai alat bantu dan tempat bersandar bagi anak anak yang berlatih renang di desa saya.

Meskipun saya bisa berenang, saya juga menggunakan landangan sebagai salah satu kegiatan berenang di sungai, karena berenang dengan menggunakan landangan ini merupakan kegiatan yang asyik dan juga menyenagkan. Saya memakai landangan ini kadang-kadang sendirian dan kadang-kadang juga berdua.

Ada juga kegiatan yang menarik lainnya dengan menggunakan alat landangan ini, yaitu bisa dijadikan sebagai lomba balap landangan. Anak-anak dengan landangan nya masing-masing berposisi sejajar kemudian di tentukan lokasi tujuan yang akan ditempuh. Bagi anak-anak yang mampu menempuhnya dengan cepat, maka dialah yang dianggap sebagai pemenang lomba balap landangan.

Menjadi pemenang lomba balap landangan merupakan tradisi saya, dengan menjadi pemenang lomba balapan landangan ini memunculkan motivasi dan spirit tersendiri bagi saya untuk kemudian bisa berkompetisi dan memenangkan setiap lomba di kemudian hari. Lagi-lagi masa-masa kecil merupakan masa-masa yang menyenangkan sekaligus membahagiakan, saya jadi teringat ucapan saya dua puluh lima tahun yang lalu kepada anak-anak usia sepantaran saya "ini landanganku mana landanganmu..!"

Noted: Gambar dari Mas Mampuono Sekjen IGI