![]()
Foto ini diambil saat saya bertemu dengan Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi, MA dari Malang, salah seorang pemateri utama seminar nasional upgrading mubaligh yang diselenggarakan lembaga dakwah Nahdlatul Ulama Kabupaten Kutai Timur. Sementara saya hadir sebagai pemateri pocokan atau back up saja.
Dalam seminar nasional upgrading mubaligh yaang akan dilaksanakan Sabtu, 1 Desember 2018 nanti seharusnya beliau menyampaikan dua materi utama, yang pertama berkaitan dengan komitmen kebangsaan dan strategi menjadi seorang mubaligh. Namun, dikarenakan pita suara yang sedang bermasalah maka beliau meminta kepada saya untuk menyampaikan materi tentang menjadi mubaligh milenial.
Seperti apa seharusnya Dai milenial itu..?
Menjadi seorang dai, penceramah atau ustaz sebenarnya merupakan hal yang gampang. Di jaman sekarang untuk menjadi seorang mubaligh bisa dilakukan dengan serba instan, tidak perlu dibekali dengan keilmuan yang cukup. Apalagi di era media sosial dan media selebriti, seorang dai bisa membranding dirinya untuk bisa tampil di media televisi dengan biaya mandiri membuat production house (PH) atau membentuk tim kreatif di media sosial.
Namun demikian, apakah dengan sebuah ketenaran yang serba instan itu dapat menjadikan para jamaahnya mengerti apa yang disampaikan para mubaligh meskipun jamaahnya mengerti tetapi tidak sampai pada hati para jamaahnya. Habib Ali Al Jufri, seorang penceramah dan alim ulama yang tersohor memiliki ribuan jamaah ketika berceramah hampir semua jamaahnya menagis dan paham dengan apa yang disampaikan.
Habib Ali al-jufri memiliki sebuah kantor besar di Dubai, setiap hari kantornya selalu bersih, WC toiletnya setiap pagi bersih sebelum para pegawai datang masuk. Para karyawan pun kebingungan siapakah gerangan seseorang yang melakukan ini semua. Ternyata, yang membersihkan kantor dan WC toiletnya adalah Habib Ali al-jufri.
Salah seorang karyawan kemudian menanyakannya kepada Habib Ali al-jufri tentang apa yang diperbuatnya, "Kenapa Anda melakukan ini. Bukankah Anda seseorang ulama besar yang maidlah hasanahnya selalu ditunggu-tunggu para jamaah?". Habib Ali al-jufri memberikan jawaban bahwa apa yang ia lakukan dengan membersihkan sesuatu yang sebenarnya bukan tugasnya adalah dirinya ingin belajar menghilangkan rasa sombong sebagai seorang manusia.
Seorang mubaligh seharusnya tidak memandang berapa banyak jumlah jamaah yang dimiliki, berapa banyak jamaah yang mendengar apa yang disampaikan dan bukan melihat berapa banyak jamaah yang menangis ketika seorang ustad tersebut memberikan petuah ataupun mauidlah.
Untuk menjadi seorang mubaligh, bukan masalah simbol-simbol keustazan/ keulamaan yang dibesar-besarkan, tetapi seorang mubaligh seharusnya selalu berusaha melakukan hal-hal sebagaimana layaknya seorang hamba kepada khaliknya.
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .
