Breaking News

Kurikulum Guru Ngaji

Loading

Dua minggu yang lalu ketika berada di Bandung saya bertemu dengan salah satu guru hebat yang berasal dari kota Tahu Kediri, Wakhid Purnomo namanya. Guru lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat ini sedang menunggu menyelesaikan magister pendidikan di universitas yang sama.

Selama berada di Bandung, kami berdua dituntut untuk mampu menyelesaikan sebuah buku meskipun masih dalam bentuk draft naskah buku. Namun demikian, saya sangat mengapresiasi atas kinerja yang telah dilakukan oleh sahabat saya, draft naskah buku yang dituliskanya jauh lebih cepat daripada draft naskah buku yang sedang saya kerjakan.

Saya sangat tertarik dengan rencana buku yang akan ditulis oleh sahabat saya yang berkaitan dengan sebuah pertanyaan kita bersama mengenai permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia. Apakah persoalan-persoalan pendidikan di Indonesia dapat diuraikan dengan kurikulum yang tepat ataukah dengan peningkatan kompetensi guru?

Guna menjawab itu ada rumusan yang sangat familiar di kalangan pondok pesantren "Atthariqotu ahammu minal maddah, almudarrisu ahammu ilath thoriqoh, almudarrisu muhimmatun walakin arruhu mudarrisu ahammu ilal mudarrisu".

Materi kurikulum atau yang kita kenal dengan kompetensi dasar itu penting, tetapi metode pembelajaran menjadi lebih penting dari materi pembelajaran. Pun demikian, metode pembelajaran itu penting tetapi kemampuan guru lebih penting dari metode pembelajaran, dan kemampuan guru itu penting tetapi akhlaq guru itu jauh lebih penting dari kompetensi yang dimiliki seorang guru.

Bagi saya, awalnya menganggap bahwa standar kompetensi yang telah digariskan oleh pemerintah melalui kebijakan yang telah ditetapkan, yang kita kenal dengan kurikulum 13 yang merupakan bentuk penyempurnaan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

Materi-materi yang ada pada kurikulum 13 yang disederhanakan menjadi standart kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Standart kompetensi tersebut dapat dikuasai oleh peserta didik dengan baik melalui metode pembelajaran yang tepat. Sehingga, metode pembelajaran menjadi penting dalam menuntaskan sebuah kompetensi dasar.

Standart kompetensi yang kita kenal sekarang anda akan dengan materi apapun juga tidak menggunakan metode pembelajaran yang tepat akan mengesankan ketidak kesempurnaan. Maka, peran metode pembelajaran di sini adalah memberikan jembatan yang tepat dalam menuntaskan sebuah materi. Apapun materinya jika disampaikan dengan menggunakan metode yang tepat, maka akan mempermudah peserta didik dalam menerimanya. Sebaliknya, materi yang telah dipersiapkan dengan matang akan terasa hampa bila tidak tepat dalam menggunakan media atau metode pembelajaran.

Metode pembelajaran sangat penting dalam menuntaskan standart kompetensi, namun demikian metode pembelajaran tidak akan bermakna tanpa adanya guru yang handal dalam menerapkan metode tersebut. Untuk itu peran guru sangat penting dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat.

"Man behind the gun" barangkali tepat untuk melukiskan tentang bahwa guru sangat penting dalam menentukan metode pembelajaran, tanpa adanya SDM guru yang mumpuni musykil adanya metode pembelajaran yang tepat.

SDM guru yang handal saja belum lah cukup, dibutuhkan karakter atau akhlak guru dalam menggunakan metode pembelajaran. Seorang guru yang menguasai berbagai metode pembelajaran belum tentu disukai dan materi pembelajarannya diserap dengan baik oleh peserta didik.

Untuk itu, dibutuhkan singkronisasi antara guru dan peserta didik dan ini hanya didapat apabila hati keduanya bisa singkron. Agar materi pembelajaran dapat sinkron antara apa yang disampaikan oleh guru dengan peserta didik itu melalui sebuah kurikulum yang berdasar pada hati gurunya.

Sebaik-baiknya kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui kebijakan tidak akan mampu mengalahkan kurikulum yang berasal dari hati gurunya. Penerapan kurikulum yang baik selama ini dapat dilihat melalui penerapan kurikulum sebagaimana guru ngaji, kurikulum ada di hatinya.

Melalui kurikulum yang diterapkan oleh guru ngaji ini, guru tahu kapan anak harus naik tingkat dan kapan anak harus mengulang pembelajarannya. Dengan hati yang ikhlas, guru ngaji ini mengajarkan alif ba ta dengan baik sehingga peserta didik yang diajarnya mampu menembus sumsum tulang dan hati para peserta didik. Sehingga di masa dewasanya masih ingat pembelajaran yang telah diajarkan oleh guru ngajinya.

About sismanto

Check Also

Menikmati Proses Belajar di PMKNU Angkatan I: Menyerap Spirit Khidmah dalam Pendidikan

Sebagai Ketua PCNU Kutai Timur, saya merasa bersyukur dan terhormat dapat mengikuti secara langsung proses …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading