![]()
"Sangatta kota santri?" Sebuah pertanyaan bersama bagi masyarakat Kota Sangatta. Sebelum mengenal lebih jauh apakah Sangatta layak menjadi kota santri ataukah tidak, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu kondisi sosio geografis Kota Sangatta.
Sangatta merupakan ibukota Kabupaten Kutai Timur, sebuah kota kecil paling timur di Kaltim yang dijadikan ibukota kabupaten yang merupakan hasil salah satu pemekaran dari Kabupaten Kutai. Pada pemekaran Kabupaten Kutai ini tidak hanya Kabupaten Kutai Timur saja tetapi juga berbarengan dengan Kabupaten Kutai Barat. Pemekaran Kabupaten Kutai Timur berdasarkan undang-undang Nomor 47 tahun 1999 pada 28 Oktober 1999.
Sebagai sebuah kota kecil, Sangatta memiliki geografis yang diapit diantara dua Taman Nasional Kutai (TNK) dan taman nasional Muara Wahau. Dahulu Taman Nasional Kutai yang berada di Kota Sangatta masih sangat hijau yang diumpamakan laksana untaian permadani di jamrud khatulistiwa, sayangnya pemandangan itu kini sudah tidak dapat ditemukan lagi akibat keserakahan manusia. Banyak pohon yang ditebang yang berakibat hutan menjadi tandus, Taman Nasional Kutai yang dahulu pernah menjadi kebanggaan masyarakat Kaltim saat ini kondisinya berubah total.
Merujuk terminologi kota santri yang dirilis oleh Wikipedia bahwa kota santri merupakan istilah yang diberikan kepada kota-kota yang memiliki banyak pondok pesantren. Beberapa kota yang layak disebut sebagai Kota Santri misalnya Pati, Kudus, Rembang, dan Kaliwungu yang berada di provinsi Jawa Tengah dan kabupaten Tuban, Pasuruan, dan Jombang di Provinsi Jawa Timur layak disebut sebagai Kota Santri.
Sementara untuk wilayah pulau Kalimantan, kota yang layak dijuluki sebagai Kota Santri adalah Kota Martapura yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang dulunya berada pada wilayah kesultanan Banjar ini coraknya masih ada sampai sekarang. Bagaimana dengan Kota Sangatta?
Untuk disebut sebagai Kota Santri, Sangatta masih jauh dari kata layak, mengingat pesantren-pesantren yang ada di Sangatta bisa dihitung dengan jari dan itupun santrinya juga tidak terlalu banyak. Namun demikian upaya menuju menjadi kota santri masih sangat terbuka dan memungkinkan.
Bila kita telusuri setapak demi setapak beberapa lokasi dan kegiatan keagamaan yang ada di Sangatta.
Pertama, minimal sebulan sekali saya menemukan jamaah yang berkumpul dari masjid ke masjid untuk mengkhatamkan al-quran.Jamiyah Quro Wal Khuffat yang berada dibawah naungan ormas terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama mengadakan safari khotmil Quran dari masjid ke masjid minimal sebulan sekali.
Para penghafal Alquran se-Sangatta menggelar giat semaan dan khotmil Quran bertempat di masjid yang satu ke masjid yang lainnya. Kegiatan khotmul quran tersebut mendapatkan sambutan dari masyarakat sekitar masjid. Di samping itu khotmil quran dihadiri pengurus cabang Nahdlatul Ulama Kutai Timur.
Khotmil qur’an ini dijadikan sebagai sarana dzikir kepada Allah dan juga bisa memperkokoh iman serta mengharap turunnya radio Allah SWT. Selain sebagai ajang silaturrahim, juga djadikan sebagai wahana menenangkan akal pikiran dan upaya memahami makhluk Allah melalui ayat-ayat Al quran.
Khotmil qur’an ini merupakan kegiatan turun temurun, sebuah kegiatan yang telah berlangsung bertahun-tahun bahkan kegiatan ini dilakukan sahabat pada jaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Kedua, Majelis Taklim. Kegiatan pengajian majlis ta’lim hampir tiap hari diadakan ibu-ibu di setiap gang yang ada di Kota Sangatta. Pengajian majelis taklim ini membahas seputar agama dalam kehidupan sehari-hari, sebelumnya majelis taklim ini juga tidak lupa membaca Yasin dan Tahlil, Bahkan beberapa majelis Ta’lim ada yang mengadakan pembacaan AlQuran bergantian dari satu orang ke orang lain dalam satu majelis yang dilakukan secara kontinyu.
Terakhir, yang tak kalah pentingnya adalah anak yang sedang nyantri. Banyak anak di Sangatta yang nyantri di berbagai daerah, baik di Balikpapan, Kalimantan Selatan ataupun belajar agama ke luar pulau Kalimantan diantaranya tersebar di berbagai daerah Pasuruan, Mojokerto, Malang, Jombang, dan kota-kota santri lainnya yang ada di pulau Jawa.
10 tahun mendatang anak-anak yang belajar agama ini bila pulang ke Sangatta dan menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok nusantara, sehingga Islam menjadi budaya di Sangatta. Maka menjadi sebuah keniscayaan apabila Islam sudah menjadi budaya yang dibawa itu akan menjadikan Sangatta sebagai Kota Santri.
Ketiga pilar inilah yang saya yakini, Insya Allah ke depannya menjadikan Sangatta sebagai kota santri. Adanya kelompok jamaah yang membudaya menghafalkan AlQuran, orang tua yang aktif dalam majelis pengajian dan mengarahkan anaknya untuk belajar ilmu agama di pesantren.
Saat ini kita dapati di beberapa lokasi di Sangatta mulai menjamur rumah tahfiz, kedepannya bila rumah tahfidz ini berhasil mendidik anak-anak, maka 10 tahun akan menjadikan banyak anak yang menghafal Alquran. Sehingga pada gilirannya lambat laun tapi pasti akan menjadikan Sangatta sebagai Kota Santri. Semoga (*)
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .
