![]()
Salah seorang siswa di kelas yang saya ampu hari ini mengajak teman-temannya dan saya sebagai gurunya untuk ke kantin dan ditraktir sebagai pertanda bahwa hari ini dirinya telah berulang tahun. Melihat inisiatif anak tersebut, maka saya meminta teman-temannya untuk berbaris secara rapi di kantin untuk mendapatkan giliran masing-masing porsi yang akan didapatkan, dan di barisan terakhir saya juga ikut berbaris.
Barangkali sudah menjadi kebiasaan di kalangan anak-anak ketika ada yang ulang tahun mentraktir teman-temannya ke kantin sekolah. Mudah-mudahan hal tersebut dianggap sebagai bentuk perwujudan syukur atas berkah dan karunia yang diberikan Allah SWT, bukan karena hal yang lain baik berupa kebiasaan maupun tradisi.
Cara yang dilakukan untuk perwujudan rasa syukur atas umur yang telah diberikan Allah SWT tersebut, anak-anak didik saya mengajak teman-temannya berbagi connect makan di kantin dengan nominal yang telah ditentukan oleh yang ulang tahun. Bahkan, ada yang membuat voucher khusus berupa nominal uang yang dapat ditukarkan di kantin sekolah. Rata-rata di voucher antara 5 ribuan untuk anak-anak angka kebanyakan anak usia sekolah mendapatkan uang saku, sementara untuk gurunya biasanya lebih dari nilai nominal itu, gampangnya minimal dapat dua voucher.
Melihat kondisi tersebut dari tahun ke tahun, nampaknya ulang tahun sudah mulai membumi diadakan di Indonesia, baik oleh anak-anak, anak muda, dan bahkan sampai orang tua yang akan meninggal keesokan harinya juga mengadakan ultah.
Bahkan saya sendiri sampai sekarang tidak pernah merayakan ulang tahun secara khusus, kecuali ada momen-momen tertentu di lingkungan kerja yang mengharuskan saya harus iuran lantaran bertepatan dengan bulan kelahiran saya.
Mengapa saya tidak ikut ulang tahun? alasan yang paling sederhana sebenarnya bukan menjadi kebiasaan dan tradisi keluarga saya untuk meramaikan acara ulang tahun. Tradisi dalam keluarga saya biasanya pada saat weton (pasaran kelahiran) diadakan bancakan (tasyakuran) dengan cara memanggil teman-teman sepermainan saya untuk berdoa dan kemudian memakan makanan yang disajikan secara bersama-sama.
Kedua, biasanya seseorang diperingati bukan karena hari lahirnya tetapi hari kematiannya. Hal ini ditandai dengan mengadakan acara yasinan, tahlilan, dan atau manaqiban pada haul (satu tahun). Sebenarnya budaya inilah yang membedakan kita sebagai orang Timur dengan orang Barat.
Pilihan ada pada panjenengan apakah akan mengikuti tren ulang tahun sebagaimana kebiasaan orang Barat ataukah ahli waris kita yang akan memberikan ulang tahun kematian (haul).
__________________
Sismanto HS

Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .