Breaking News

Soetasoma

Loading

Sejak dahulu kala nenek moyang kita telah memiliki panduan dasar dalam kehidupan sosial maupun politik di Indonesia, baik yang berasal dari kitab Negarakertagama yang mengatur dalam kehidupan siyasah politik maupun yang berasal dari kitab Sutasoma yang berkaitan dengan muamalah dan ukhuwah basyariah (hubungan antar manusia).
Kitab Sutasoma dianggit oleh Mpu Tantular, sebuah kitab atau buku yang berisi kakawin berbentuk syair dalam bahasa Jawa Kuna dengan satuan irama yang berasal dari India. Kitab Sutasoma ini merupakan kitab yang masyhur di dunia yang mengatur peradaban sosial budaya, karena setengah bait dari kakawin ini menjadi motto nasional negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda namun satu jua.
Tingginya peradaban yang mengatur dalam kehidupan sosial budaya ini turun menurun diajarkan nenek moyamg kita kepada anak cucunya sehingga sampai kepada generasi sekarang dan mudah-mudahan tetap kehidupan sosial yang santun dan guyub ini tetap lestari untuk generasi pada masa mendatang.
Implementasi sederhana yang ada di masyarakat adalah gotong royong dan kerjasama masyarakat di Indonesia ini telah terbangun sejak lama. Masyarakat akan bersama-sama membangun fasilitas-fasilitas publik yang menjadi kebutuhan dasar yang akan digunakan sehari-hari.
Begitu juga warga masyarakat yang berada di kampung Kaswari tempat saya tinggal, pagi ini tadi bersama-sama membangun mushola (ngecor slup) yang setelah bertahun-tahun baru kali ini punya mushola. Tidak melihat apapun pangkat dan jabatan jabatannya, tidak melihat berapa pun besar gajinya, baik yang kerja di kantoran atau kerja di luar kantor ketika sama-sama warga Kaswari, maka akan ikut serta dalam kegiatan gotong royong membangun mushola.
Sekedar diketahui bahwa kampung Kaswari berdiri sejak tahun 2006 dan sampai sekarang baru akan memiliki mushola. Biasanya para warga kampung Kaswari shalat berjamaah di masjid Al Falah, sebuah masjid yang berada di lingkungan Perumahan Griya Prima Lestari.
Setelah briefing singkat anggota masyarakat sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. Sebagian orang mengambil pasir dan koral yang diangkut dengan menggunakan arco, kemudian ditaruh di tempat pengadukan. Sebagian lagi mengambil semen sesuai dengan takaran yang pas sesuai instruksi dari mandor tukang.
Apabila kegiatan pengadukan ini sudah selesai, anggota masyarakat yang lain akan membentuk barisan saling mengulurkan timba-timba yang berisi cairan cor untuk dimasukkan ke tempat yang sudah disediakan dan disiapkan oleh tukang.
Bagi saya dan masyarakat Kaswari, tentunya keberadaan mushola ini akan menjadikan spirit kebangkitan dalam membangun ukhuwah islamiah maupun ukhuwah basyariyah yang selama ini sudah terbangun sejak lama dengan diadakannya berbagai macam kumpulan dan pertemuan, baik pertemuan informal maupun pertemuan formal. Bahkan, beberapa amaliah juga sudah dilakukan warga kampung Kaswari dengan bentuk Yasinan dan tahlilan, sehingga kedepannya ketika mushola ini berfungsi tentunya pusat kegiatan keagamaan dari rumah ke rumah akan dipindahkan di mushola yang akan berdiri ini.
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan apabila salah satu anggota masyarakat yang akan mengundang warga lainnya untuk hadir ke rumahnya, misalnya mengadakan hajatan, sunatan maupun tasyakuran akan mendatangi dari rumah ke rumah.
Melihat antusiasme warga masyarakat kampung dalam membangun mushola saya seperti melihat dan membaca secara langsung lembaran demi lembaran kitab Soetasoma berada di tengah-tengah warga masyarakat kampung Kaswari.
Untuk Mbah Mpu Tantular, semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sisiNya. Amin.
__________________
#Noto_Sandal_Sakdurunge_Noto_Ati
#GassPool

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading