![]()
Hari ini saya diminta panitia untuk memberikan materi "speed reading dan menulis dengan hati" secara daring kepada anak-anak kelas 6 SD YPPSB 3 Sangatta yang merencanakan membuat sebuah buku dengan tema dinamika pelajaran dalam pandemi covid 19.
Salah satu kelemahan seorang yang mau menulis adalah kurangnya bahan bacaan, tidak mau membaca, tidak percaya diri dan dan tidak mau mencoba padahal sebenarnya bila beberapa kendala itu bisa diatasi dengan berlatih secara terus menerus, maka menulis sangatlah mudah.
Untuk mengatasi masalah itu, maka diperlukan solusi bagaimana membaca bahan bacaan secara cepat, maka dengan singkat saya mengajari bagaimana anak didik saya menggunakan teknik speed reading, dengan speed reading ini akan diketahui seberapa cepat seorang anak membaca kata dalam 1 menit.
Jika kita bandingkan apa yang yang dilakukan oleh Theodore Roosevelt setiap hari membaca 3 buku dan John F. Kennedy memiliki kecepatan membaca 1000 KPM. Maka saya yakin kita semua bisa melakukan itu sebagaimana Norman Lewis dalam bukunya "how to read better and faster".
Level kecepatan membaca dalam satu menit menghasilkan 100 kata dikategorikan membaca lambat, 200-250 kecepatannya rata-rata, 400-500 kata dikategorikan membaca cepat, 600-800 kata dikategorikan tinggi, dan 1.000 kata dikategorikan membaca scanning (skimming).
Dalam prakteknya tadi setelah disimulasikan ada salah satu anak didik saya yang memiliki kecepatan membaca 467 kata dalam 1 menit yang bisa dikategorikan membaca cepat sementara ada juga yang berada di bawah 100 kata. Untuk iku secara ringkas saya ajari bagaimana melatih otot mata agar dapat membiasakan diri membaca dengan cepat.
Terakhir, adalah praktik menulis dengan hati. Menjadi sebuah tulisan saja banyak yang bisa, tetapi bagaimana tulisan itu memiliki ruh itu persoalan lain. Bagaimana caranya, nanti saya ceritakan sambil ngopi di warung kopi "Yu Markonah".
Sangatta, 11 Maret 2021
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .
